Rabu, 11 Januari 2012 01:22
Oleh Topilus B. Tebai
Perkenankan saya dalam tulisan ini mewakili seluruh pelajar asli Papua,
mengungkapkan kegelisahan hati: Mengapa sejarah bangsaku tidak diajari
dengan baik semasa studi kami?” Mengapa kami diajari sejarah orang lain,
sementara oleh karenanya kami dibuat semakin buta akan kebudayaan
bangsa kami sendiri? Akankah –suatu saat nanti- akan kami pelajari
sejarah bangsa kami, Papua, sebagai anak bangsa Papua di masa
pendidikan?
***
Sudah 12 tahun saya duduk di bangku sekolah. Menyelesaikan studi di tingkat Sekolah Dasar (SD) selama 6 tahun, SMP selama 3 tahun, dan sudah memasuki tahun ketiga di tingkat SMA. Banyak ilmu yang kupelajari, tak terkecuali, pelajaran sejarah. Sejak tingkat Sekolah Dasar, saya dengan teman-temanku diajari tentang sejarah, yang lebih dikenal di tingkat dasar dengan IPS. Di pelajaran tersebut, kami diajari tentang kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia, seperti kerajaan Kutai, Tarumanegara, Singasari, Kadiri, Sriwijaya, dan Majapahit. Kami juga diajari tentang candi-candi di Indonesia, seperti candi Brobudur, candi Prambanan, candi Mendut, candi Kalasan, daan candi-candi lainnya. Tentang kerajaan- kerajaan Islam di Indonesia, seperti kerajaan samudera Pasai, kerajaan Demak, kerajaan Pajang, Kerajaan Makassar, kerajaan Ternate Tidore, dan kerajaan-kerajaan lainnya. Semuanya secara lengkap kami pelajari. Cerita tentang perang Bahratayuda, lengkap dengan tokoh-tokohnya yang berperan di dalamnya. Tentang wayang golek, dan lain sebagainya.
Ketika sekolah Dasar dan sekolah menengah pertama, kami juga diajari tentang peristiwa-peristiwa seputar proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di dalam pelajaran ini ada yang diwajibkan untuk dihafal, seperti pembukaan UUD 2945, pahlawan proklamator kemerdeekaan RI, menghafal UUD 1945, jumlah pasal dan alinea. Semuanya kami telaah, kami pelajari dan kami kuasai. Maka, jangan tanya lagi tentang sejarah, karena kami mungkin akan dengan tepat menjawabnya. Setiap hari Senin juga, kami diharuskan untuk melaksanahkan upacara bendera. Maka, kami juga diharuskan untuk menghafal lagu Indonesia Raya. Kami juga diwajibkan untuk menunjukkan sikap sempurna bila menghirmati bendera merah putih.
Ketika SMP, kami diajar tentnag Pengembalian Irian Jaya Ke Pangkuan Ibu Pertiwi. Disitu kami diajarkan tentang bagaimana usaha Indonesia untuk mengembalikan kedaulatan tanah air Indonesia secara seutuhnya dengan memperjuangkan pengembalian Irian Jaya ke pangkuan Indonesia, dan kegembiraan masyarakat Papua untuk bebas dari penjajahan Belanda. Itulah sekilas gambaran pendidkan yang kuperoleh semasa SD dan SMP.
Ketika saya di SMA, saya merasa ada yang tidak beres dengan semua pelajaran yang diajarkan tersebut diatas. Hal ini mulai kusadari ketika saya mengikuti kegiatan Temu Kolese se-Indonesia, yang bertempat di seminari Mertoyudan Magelang, Jawa Tengah. Ketika itulah, saya mendapatkan beberapa pengalaman berharga.
Ketika kutanyai teman saya dari Yogya-juga pelajar SMA- ia menjelaskan bahwa upacara bendera mereka laksanahkan hanya 2 kali dalam setahun, yaitu di saat 17 Agustus dan 2 Mei. Hal ini sungguh sangat berbandiing terbalik dengan yang saya alami di Papua, dimana hampir setiap hari Senin selalu ada upacara Bendera. Penasaran dengan hal ini, saya banyak bertanya seputar pelajaran-pelajaran yang diterima ketika di SD dan SMP.
Dari situlah saya sadar, bahwa kita diperlakukan beda dalam peperapa hal. Maka di benakku muncul banyak pertanyaan. Mengapa saya dan teman-teman Papua dipaksa untuk menghafal lagu Indonesia Raya? Mengapa saya dan teman-temanku diwajibkan setiap hari Senin mengikuti upacara bendera? Mengapa aku diharuskan untuk menghafal UUD 1945 ? Mengapa aku diajarkan tentang candi, benda-benda purbakala yang ada di Jawa dan sekitarnya? Mengapa saya diajarkan tentang candi-candi, tentang kerajaan yang ada di jawa dan sekitarnya, yang tidak dapat saya bayangkan bentuknya? Mengapa hal-hal seperti itu tidak diajarkan dengan cara ‘memaksa’ di jawa, sama seperti saya diajari di Papua?
Pertanyaan-pertanyaaan di atas membuatku untuk ingin mengetahui lebih detail tentang Papua dan sejarahnya. Maka, saya mencoba membaca buku-buku lain yang menceritakan tentang Papua. Tidak banyak yang saya ketahui sesudahnya. Akan tetapi, secara garis besar, saya mengetahui bahwa ada perbedaan yanga sangat besar antara yang kubaca itu, dengan yang diajarkan di sekolah.
Bila di sekolah saya hanya belajar tentang kegembiraan masyarakat Papua menerima pembebasan atas penjajahan, di sumber yang lain di luar pelajaran, saya menjadi tahu tentang banyaknya pembunuhan, pemaksaan, penganiayaan, pemerkosaan (pelanggaran HAM di Papua), dan pelanggaran perjanjian New York Agreement, yang berujung pada masuknya Papua ke NKRI, dengan penuh rekayasa dan tipudaya licik Indonesia. Bila di sekolah saya diajar tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia, di sumber luar, saya mengetahui adanya kemerdekaan Papua, sebagai sebuah bangsa yang berbeda dengan Indonesia, lengkap dengan perangkat kenegaraannya.
Bila di sekolah saya belajar tentang bagaimana gerakan separatis ditumpas di Papua, di sumber lain, saya menjadi tahu, begitu banyak dan sadisnya perlakuan tentara Indonesia terhadap masyarakat Papua, dengan dalih menjadi anggota gerakan separatis, tanpa alasan dan bukti yang jelas atas tuduhan itu. Ketika di sekolah diajari tentang perang bahratayudha, di sumber lain kudapati cerita-cerita menarik dari Papua, seperti Koyei daba, siroa simamor, dan lain sebagainya.
Hal ini menjadi sebuah hal yang membuatku selalu bertanya, sumber mana yang kupercayai. Yang diajarkan di sekolah, atau sumber luar tersebut? Mengapa saya diajari sejarah Jawa, padahal saya orang Papua? Apakah tidak ada sejarah yang begitu pantas untuk diceritakan buatku dan teman-temanku Papua, di Papua sehingga kami malah diajari sejarahnya orang lain? Bukankah sejarah bangsaku adalah masa laluku, dan apapun itu aku sebagai anak bangsa Papua pantas untuk mengetahuinya?
Akhirnya bahaya besar yang sesungguhnya kudapati. Ketika kami, generasi muda Papua menerima pendidikan yang sama seperti yang saya alami, maka akan tumbuh generasi muda Papua yang tidak tahu sejarahnya sendiri. Ketika tidak tahu tentang sejarahnya sendiri, artinya lahirlah generasi baru yang tanpa mengenali identitasnya. Hal ini seakan mendirikan rumah tidak di atas pondasi sejarah yang kuat, dan rumah ini berpotensi untuk roboh, ketika badai dan hujan melanda rumah itu. Saya tidak ingin hal ini terjadi. Saya tidak ingin mengalami krisis identitas di kemudian hari. Saya ingin sekali belajar sejarah bangsaku, Papua. Apapun itu, saya dan teman-temanku Papua berhak mengetahui, dan mempelajarinya sebagai anak bangsa Papua.
Kini, tergantung para pengambil kebijakan menyikapi bahaya krisis identitas ini, mungkin dengan memanfaatkan ruang Otsus untuk membuat kurikulum pendidikan khusus berkonteks Papua, yang berlaku untuk wilayah Papua. Dimana di dalamnya, sejarah Papua diajarkan. Apapun itu sejarah bangsaku, diajarkan murni, tidak ditambah, tidak dikurang. Karena itulah dasar, landasan, atau pondasi dasar keberadaan setiap manusia Papua saat ini. Karena masa lalu selalu ada kaitan dan dampaknya dengan saat ini, dan masa kini akan ada kaitannya dengan kehidupan anak cucu kita ke depan. Wahai pelajar Papua, bukankah kita sebagai anak bangsa Papua seharusnya mengetahui sejarah bangsa kita?
(Pelajar SMA Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville, Nabire-Papua)
***
Sudah 12 tahun saya duduk di bangku sekolah. Menyelesaikan studi di tingkat Sekolah Dasar (SD) selama 6 tahun, SMP selama 3 tahun, dan sudah memasuki tahun ketiga di tingkat SMA. Banyak ilmu yang kupelajari, tak terkecuali, pelajaran sejarah. Sejak tingkat Sekolah Dasar, saya dengan teman-temanku diajari tentang sejarah, yang lebih dikenal di tingkat dasar dengan IPS. Di pelajaran tersebut, kami diajari tentang kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia, seperti kerajaan Kutai, Tarumanegara, Singasari, Kadiri, Sriwijaya, dan Majapahit. Kami juga diajari tentang candi-candi di Indonesia, seperti candi Brobudur, candi Prambanan, candi Mendut, candi Kalasan, daan candi-candi lainnya. Tentang kerajaan- kerajaan Islam di Indonesia, seperti kerajaan samudera Pasai, kerajaan Demak, kerajaan Pajang, Kerajaan Makassar, kerajaan Ternate Tidore, dan kerajaan-kerajaan lainnya. Semuanya secara lengkap kami pelajari. Cerita tentang perang Bahratayuda, lengkap dengan tokoh-tokohnya yang berperan di dalamnya. Tentang wayang golek, dan lain sebagainya.
Ketika sekolah Dasar dan sekolah menengah pertama, kami juga diajari tentang peristiwa-peristiwa seputar proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di dalam pelajaran ini ada yang diwajibkan untuk dihafal, seperti pembukaan UUD 2945, pahlawan proklamator kemerdeekaan RI, menghafal UUD 1945, jumlah pasal dan alinea. Semuanya kami telaah, kami pelajari dan kami kuasai. Maka, jangan tanya lagi tentang sejarah, karena kami mungkin akan dengan tepat menjawabnya. Setiap hari Senin juga, kami diharuskan untuk melaksanahkan upacara bendera. Maka, kami juga diharuskan untuk menghafal lagu Indonesia Raya. Kami juga diwajibkan untuk menunjukkan sikap sempurna bila menghirmati bendera merah putih.
Ketika SMP, kami diajar tentnag Pengembalian Irian Jaya Ke Pangkuan Ibu Pertiwi. Disitu kami diajarkan tentang bagaimana usaha Indonesia untuk mengembalikan kedaulatan tanah air Indonesia secara seutuhnya dengan memperjuangkan pengembalian Irian Jaya ke pangkuan Indonesia, dan kegembiraan masyarakat Papua untuk bebas dari penjajahan Belanda. Itulah sekilas gambaran pendidkan yang kuperoleh semasa SD dan SMP.
Ketika saya di SMA, saya merasa ada yang tidak beres dengan semua pelajaran yang diajarkan tersebut diatas. Hal ini mulai kusadari ketika saya mengikuti kegiatan Temu Kolese se-Indonesia, yang bertempat di seminari Mertoyudan Magelang, Jawa Tengah. Ketika itulah, saya mendapatkan beberapa pengalaman berharga.
Ketika kutanyai teman saya dari Yogya-juga pelajar SMA- ia menjelaskan bahwa upacara bendera mereka laksanahkan hanya 2 kali dalam setahun, yaitu di saat 17 Agustus dan 2 Mei. Hal ini sungguh sangat berbandiing terbalik dengan yang saya alami di Papua, dimana hampir setiap hari Senin selalu ada upacara Bendera. Penasaran dengan hal ini, saya banyak bertanya seputar pelajaran-pelajaran yang diterima ketika di SD dan SMP.
Dari situlah saya sadar, bahwa kita diperlakukan beda dalam peperapa hal. Maka di benakku muncul banyak pertanyaan. Mengapa saya dan teman-teman Papua dipaksa untuk menghafal lagu Indonesia Raya? Mengapa saya dan teman-temanku diwajibkan setiap hari Senin mengikuti upacara bendera? Mengapa aku diharuskan untuk menghafal UUD 1945 ? Mengapa aku diajarkan tentang candi, benda-benda purbakala yang ada di Jawa dan sekitarnya? Mengapa saya diajarkan tentang candi-candi, tentang kerajaan yang ada di jawa dan sekitarnya, yang tidak dapat saya bayangkan bentuknya? Mengapa hal-hal seperti itu tidak diajarkan dengan cara ‘memaksa’ di jawa, sama seperti saya diajari di Papua?
Pertanyaan-pertanyaaan di atas membuatku untuk ingin mengetahui lebih detail tentang Papua dan sejarahnya. Maka, saya mencoba membaca buku-buku lain yang menceritakan tentang Papua. Tidak banyak yang saya ketahui sesudahnya. Akan tetapi, secara garis besar, saya mengetahui bahwa ada perbedaan yanga sangat besar antara yang kubaca itu, dengan yang diajarkan di sekolah.
Bila di sekolah saya hanya belajar tentang kegembiraan masyarakat Papua menerima pembebasan atas penjajahan, di sumber yang lain di luar pelajaran, saya menjadi tahu tentang banyaknya pembunuhan, pemaksaan, penganiayaan, pemerkosaan (pelanggaran HAM di Papua), dan pelanggaran perjanjian New York Agreement, yang berujung pada masuknya Papua ke NKRI, dengan penuh rekayasa dan tipudaya licik Indonesia. Bila di sekolah saya diajar tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia, di sumber luar, saya mengetahui adanya kemerdekaan Papua, sebagai sebuah bangsa yang berbeda dengan Indonesia, lengkap dengan perangkat kenegaraannya.
Bila di sekolah saya belajar tentang bagaimana gerakan separatis ditumpas di Papua, di sumber lain, saya menjadi tahu, begitu banyak dan sadisnya perlakuan tentara Indonesia terhadap masyarakat Papua, dengan dalih menjadi anggota gerakan separatis, tanpa alasan dan bukti yang jelas atas tuduhan itu. Ketika di sekolah diajari tentang perang bahratayudha, di sumber lain kudapati cerita-cerita menarik dari Papua, seperti Koyei daba, siroa simamor, dan lain sebagainya.
Hal ini menjadi sebuah hal yang membuatku selalu bertanya, sumber mana yang kupercayai. Yang diajarkan di sekolah, atau sumber luar tersebut? Mengapa saya diajari sejarah Jawa, padahal saya orang Papua? Apakah tidak ada sejarah yang begitu pantas untuk diceritakan buatku dan teman-temanku Papua, di Papua sehingga kami malah diajari sejarahnya orang lain? Bukankah sejarah bangsaku adalah masa laluku, dan apapun itu aku sebagai anak bangsa Papua pantas untuk mengetahuinya?
Akhirnya bahaya besar yang sesungguhnya kudapati. Ketika kami, generasi muda Papua menerima pendidikan yang sama seperti yang saya alami, maka akan tumbuh generasi muda Papua yang tidak tahu sejarahnya sendiri. Ketika tidak tahu tentang sejarahnya sendiri, artinya lahirlah generasi baru yang tanpa mengenali identitasnya. Hal ini seakan mendirikan rumah tidak di atas pondasi sejarah yang kuat, dan rumah ini berpotensi untuk roboh, ketika badai dan hujan melanda rumah itu. Saya tidak ingin hal ini terjadi. Saya tidak ingin mengalami krisis identitas di kemudian hari. Saya ingin sekali belajar sejarah bangsaku, Papua. Apapun itu, saya dan teman-temanku Papua berhak mengetahui, dan mempelajarinya sebagai anak bangsa Papua.
Kini, tergantung para pengambil kebijakan menyikapi bahaya krisis identitas ini, mungkin dengan memanfaatkan ruang Otsus untuk membuat kurikulum pendidikan khusus berkonteks Papua, yang berlaku untuk wilayah Papua. Dimana di dalamnya, sejarah Papua diajarkan. Apapun itu sejarah bangsaku, diajarkan murni, tidak ditambah, tidak dikurang. Karena itulah dasar, landasan, atau pondasi dasar keberadaan setiap manusia Papua saat ini. Karena masa lalu selalu ada kaitan dan dampaknya dengan saat ini, dan masa kini akan ada kaitannya dengan kehidupan anak cucu kita ke depan. Wahai pelajar Papua, bukankah kita sebagai anak bangsa Papua seharusnya mengetahui sejarah bangsa kita?
(Pelajar SMA Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville, Nabire-Papua)









0 komentar:
Posting Komentar