TEMPO.CO, Yogyakarta
-- Puluhan pemuda Papua membubarkan paksa sebuah seminar di Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta, Senin 9 Juli 2012 siang tadi. Mereka mengamuk
karena tidak sepakat dengan paparan salah satu pembicara yang menilai
hasil referendum masyarakat Papua 43 tahun lalu sudah sah.
Penyelenggara seminar, yakni Lingkar Pelangi Nusantara (LPN) dan Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Intelektual Tanah Papua, akhirnya terpaksa mengakhiri seminar sebelum berakhir. Padahal masih ada satu sesi diskusi lagi yang belum berlangsung. Pada sesi pertama, seminar sempat berlangsung lancar.
Pembicara seperti Julius Septer Manufandu (Sekjen Forum Kerja LSM Papua), Jaka Triana (pakar Hukum Tata Negara UGM), dan Purwo Santoso (pengajar Program Pascasarjana Politik Lokal dan Otonomi Daerah UGM) secara bergiliran menyampaikan pemikirannya.
Secara garis besar, mereka sepakat mendesak pemerintah pusat segera menggelar dialog dengan warga Papua. "Warga Papua sudah menetapkan lima perwakilan untuk berdialog dengan Jakarta. Bahkan agenda dialog pun sudah ditetapkan," katanya.
ADDI MAWAHIBUN IDHOM
Penyelenggara seminar, yakni Lingkar Pelangi Nusantara (LPN) dan Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Intelektual Tanah Papua, akhirnya terpaksa mengakhiri seminar sebelum berakhir. Padahal masih ada satu sesi diskusi lagi yang belum berlangsung. Pada sesi pertama, seminar sempat berlangsung lancar.
Pembicara seperti Julius Septer Manufandu (Sekjen Forum Kerja LSM Papua), Jaka Triana (pakar Hukum Tata Negara UGM), dan Purwo Santoso (pengajar Program Pascasarjana Politik Lokal dan Otonomi Daerah UGM) secara bergiliran menyampaikan pemikirannya.
Secara garis besar, mereka sepakat mendesak pemerintah pusat segera menggelar dialog dengan warga Papua. "Warga Papua sudah menetapkan lima perwakilan untuk berdialog dengan Jakarta. Bahkan agenda dialog pun sudah ditetapkan," katanya.
ADDI MAWAHIBUN IDHOM









0 komentar:
Posting Komentar