KOMPAS.com/BUDY SETIAWAN :
Ratusan siswa lulusan sekolah dasar di Manokwari Papua Barat,
melakukan aksi protes di depan kantor Dinas Pendidikan dan Pemuda
Olahraga Kabupaten Manokwari, karena tidak diterima di SMP Negeri 01
Manokwari, Kamis (5/7)
MANOKWARI, KOMPAS.com -
Ratusan siswa lulusan sekolah dasar di Manokwari, Papua Barat, Kamis
(5/7) melakukan aksi unjuk rasa di depan halaman kantor Dinas
Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Kabupaten Manokwari. Para
siswa yang didampingi orang tuanya ini menuntut agar Disdikpora dapat
memfasilitas mereka untuk masuk di SMP Negeri 01.
Pasalnya saat
akan mendaftar, para siswa ini ditolak oleh pihak SMP Negeri 01. Alasan
penolakan ini, menurut pihak sekolah disebabkan karena kuota penerimaan
telah terpenuhi sebanyak 160 siswa. Rinciannya, siswa asli Papua 80
orang dan non Papua 80 orang. Semuanya menempati 4 ruang kelas yang
disediakan. Sedangkan SMP Negeri 01 menolak menambah penerimaan siswa
baru, karena masih kekurangan guru dan ruang kelas. Selain itu, pihak
sekolah juga tidak membuka kelas sore.
Dalam unjuk rasa tersebut,
para siswa yang didamping oleh orang tuanya sambil membawa ijazah,
berjalan kaki dari SMP Negeri 01 Manokwari ke kantor Disdikpora di Jalan
Pahlawan Sanggeng. Di hadapan Sekretaris Dinas Pendidikan, Drs Simson
Aronggear, para orang tua murid meminta agar pihak dinas dapat membantu
para sisiwa ini untuk masuk sekolah SMP Negeri 01. Sebab sekolah lainnya
telah menutup pendaftaran.
Merespon tuntutan orang tua murid,
Simson berjanji akan segera bertemu dengan pengurus SMP Negeri 01. Hasil
pertemuan nanti akan ditempelkan. Untuk itu, Simson meminta para siswa
untuk tetap bersabar menunggu keputusan yang akan diambil. Setelah
dialog, para orang tua siswa mengumpulkan semua ijazah dan
menyerahkannya ke pihak Disdikpora. Setelah itu, mereka pun membubarkan
diri dengan tertib.
Koordinator aksi, Muhamad Patiran mengatakan,
unjuk rasa ini dilakukan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap para
siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,
namun ditolak oleh pihak sekolah. "Kalau sekolah saja sudah tolak siswa
ini, masak mereka masih usia sekolah sudah harus bekerja atau menikah.
Jadi kami menginginkan dinas (Disdikpora, red) dapat mencari
jalan keluar agar anak-anak ini dapat bersekolah," kata Muhamad Patiran
di Manokwari.
Editor :
Farid Assifa









0 komentar:
Posting Komentar